Politik

Parlemen

Hukum

Ekbis

Nasional

Peristiwa

Galeri

Calon Dewan

Olahraga

Opini

Daerah

Dunia

Keamanan

Pendidikan

Kesehatan

Gaya Hidup

Otomotif

Indeks

Bursa Warung

Oleh: Dahlan Iskan
Jumat, 26 Januari 2024 | 07:59 WIB
Share:
Pengusaha muda UMKM asal Madura, Abdul Muidz masuk bursa: MPStore. (Foto: Disway)
Pengusaha muda UMKM asal Madura, Abdul Muidz masuk bursa: MPStore. (Foto: Disway)

RAJAMEDIA.CO - Disway - Sebelum pemilihan presiden 14 Februari, satu perusahaan UMKM lagi masuk bursa: MPStore. Pemiliknya anak muda asal Madura, Bangkalan. Namanya Abdul Muidz. Umur 36 tahun. Dipanggil Aad.

Saya bertemu dengan Aad kemarin. Di Jakarta. Di acara seminar sekitar 500 anak muda pengusaha, Indonesia Business Outlook 2024 di CGV, Grand Indonesia, Kamis, 25 Januari 2024.

Jenis usaha Aad khas anak muda masa kini: aplikasi. Namanya MPStore tadi.

Sudah lima tahun ia menekuni MPStore. Sudah 600.000 toko yang menggunakan aplikasi MPStore. Karena itu ia merasa sudah saatnya IPO di bursa saham Jakarta.

Meski bisnisnya sangat masa kini, Aad tidak memulainya dari langit. Ia mengawali karir dari seorang canvaser. Salesman. Dari rumah ke rumah. Jualan pulsa salah satu perusahaan telekomunikasi swasta.

Keberhasilannya sebagai tenaga pemasaran di lapangan itulah yang membuat Aad ditarik ke staf di kantor. Lalu jadi manajer. Ia pun tahu seluk-belum manajemen di perusahaan.

Dari situ Aad merintis pembuatan aplikasi. Itu untuk memudahkan toko dan warung jualan dan kulakan. Terutama agar toko dan warung bisa dapat barang lebih murah: langsung ke grosir.

Kesulitannya: warung dan toko tidak mau membayar di depan. Mereka khawatir barang yang dibeli tidak datang. Kalau datang pun jangan-jangan tidak sesuai.

Sebaliknya pemasok tidak mau kirim barang di depan. Takut tidak dibayar. 

Ada hambatan lain: toko/warung tidak mau jualan dibayar lewat aplikasi. Toko dan warung ingin hari itu juga harus terima uang. Pembelian lewat aplikasi uangnya baru masuk paling cepat keesokan harinya.

Aad berani membayarkan ke toko/warung di hari yang sama. Itulah yang membuat warung dan toko mau jualan pakai barcode. "Saya pernah habis Rp 1,5 miliar sehari," ujar Aad.

Tapi aplikasi MPStore-nya laris. Aad lantas menjalin hubungan dengan bank swasta. Ia minta kredit yang akan dibayar satu hari. Banknya mau. Tapi Aad minta tidak mau pakai bunga. Ia beralasan bahwa yang ia kerjakan itu sebenarnya pekerjaan bank. Berhasil. Bank setuju. MPStore kian berkembang. Sampai bisa mencapai 600.000 lebih sekarang ini.

Aad bukan keturunan pengusaha. Ayahnya, almarhum, adalah politisi –anggota DPRD Bangkalan dari Golkar. Sebenarnya sang ayah minta Aad juga jadi politisi. Aad pilih kerja sebagai orang pemasaran di lapangan. 

Kini Aad tinggal di Surabaya Timur. Rumahnya yang di Bangkalan tetap dipertahankan. Ia orang Bangkalan asli. Lahir, SD, SMA di Bangkalan. Kuliahnya pun di Bangkalan –Universitas Trunojoyo.

"Saya ini Madura Negeri," kelakarnya.

''Madura Negeri'' adalah istilah guyonan untuk orang Madura yang lahir di Madura.

Banyak orang Madura yang lahir di Tapal Kuda (Pasuruan, Probolinggo, Situbondo, Banyuwangi, Malang). Mereka itulah yang disebut Mudara Swasta (Pendalungan).

Begitu banyak orang Madura di Malang sampai ada guyon kalau Madura kelak memisahkan diri dari Jatim maka ibu kota provinsi Madura itu di Malang.

Meski usaha Aad ini sangat masa kini, namun cara memperbesarnya tetap pakai cara lama: lewat canvasing. Untuk bisa mencapai 600.000 itu ia mempekerjakan 20 orang canvaser. Bahkan menjelang IPO ini ia punya 200 tenaga canvaser.

Pengguna MPStore itu mayoritas di Jatim dan Jabar. Yakni di kota-kota level dua, tiga, dan empat. Kota besar seperti Surabaya ia hindari dulu. Di Madura sendiri 15 persen dari 600.000 itu.

Aad saya jadikan contoh sebagai pengusaha baru yang tidak meninggalkan cara lama. Bukan jenis yang bakar-bakar uang. Ia bekerja keras. Berkeringat. Bergerak di lapangan. 

Pun gaya hidupnya: tetap sederhana. Efisien.

Kalau pun IPO-nya nanti sukses meraih dana Rp 80 miliar, uang itu akan sepenuhnya untuk ekspansi. Pasar modal tentu senang dengan model manajemen seperti Aad itu.

Orang Madura sukses jadi pengusaha bukan baru Aad. Tapi yang lewat UMKM masuk bursa Aad-lah idola orang Madura.

Warung itu skala bisnisnya begitu kecil. Tapi aplikasi bisa membuatnya terlihat amat besar.rajamedia

Komentar:
BERITA LAINNYA
Anggota KPU Surabaya mengikuti rapat pleno rekapitulasi penghitungan suara Pemilu 2024 di KPU Kota Surabaya, Jawa Timur, Rabu (28/2). (Harian Disway)
Risang Bima
Kamis, 29 Februari 2024
Foto: Disway
Kepentingan Umum
Rabu, 28 Februari 2024
Di tengah hiruk pikuk Pilpres 2024, petani di Desa Bedinding, Kecamatan Sugio, Kabupaten Lamongan, tetap fokus bekerja di sawahnya. (Disway)
Food Estate
Selasa, 27 Februari 2024
Beras Harbin.
Beras Bansos
Senin, 26 Februari 2024
Mayjen Farid Makruf berfoto di situs Tadulako.-- (Disway)
Madura Kaili
Minggu, 25 Februari 2024
Mie Porang, PorangKU, bikinan petani asal Ngawi: Rudi Fachrudin.--
Hilirisasi Rudi
Sabtu, 24 Februari 2024