Politik

Parlemen

Hukum

Ekbis

Nasional

Peristiwa

Galeri

Calon Dewan

Olahraga

Opini

Daerah

Dunia

Keamanan

Pendidikan

Kesehatan

Gaya Hidup

Otomotif

Indeks

Fomo Liburan Warga Kota

Oleh: Dr. Tantan Hermansah
Sabtu, 30 Desember 2023 | 19:56 WIB
Share:
Candi Borobudur salah satu destinasi tujuan wisata warga kota. (Foto: Repro)
Candi Borobudur salah satu destinasi tujuan wisata warga kota. (Foto: Repro)

RAJAMEDIA.CO -SETIAP menjelang akhir tahun, di mana selalu ada potensi hari libur yang Panjang, sebagian warga kota berbondong-bondong menuju beragam destinasi wisata. Alhasil seperti kita bisa lihat pada berbagai platform media, beragam destinasi, terutama yang favorit mengalami ledakan pengunjung yang luar biasa.

Para pengunjung yang datang dari berbagai penjuru dan tidak tersistematisasi dengan baik itu akhirnya menumpuk pada satu titik yang bernama jalanan. Seperti pembuluh darah yang terkena penumpukan lemak, dan akhirnya menyebabkan pembengkakan, begitulah keadaan jalanan.

Tidak sedikit dari arteri jalan yang mengalami pembengkakan itu akhirnya menghasilkan musibah seperti kecelakaan, ketidaksabaran dari pelaku, serta kehilangan momen untuk menikmati liburan dengan kegembiraan karena waktu yang terbuang.  

Namun lagi-lagi masyarakat, terutama sebagian masyarakat kota, tidak kapok dengan fenomena itu. Setiap tahun begitu. Seperti sudah keharusan. Meski mungkin sebagian dari mereka berganti pelaku.

Atau bisa jadi karena dari sebagian mereka itu ada yang berhasil mencapai tujuan destinasi wisatanya, sehingga mereka mengalami ekstase kegembiraan yang luar biasa. Maka di momen berikutnya mereka berusaha sedapat mungkin untuk meraih kemenangan menikmati liburan lagi.

Dari sini timbul pertanyaan, sebetulnya apa yang sedang dicari dan digali serta diburu oleh masyarakat, terutama orang kota pada setiap datangnya hari libur?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, mari kita lihat dulu bagaimana masyarakat kota itu sendiri. Secara sosiologis perilaku orang kota ini bisa kita baca dalam ekspresi dan tindakan sosialnya ketika memaknai setiap liburan.

Walau bagaimanapun masyarakat kota terdiri dari kelompok-kelompok sosial yang terstruktur rapi, karena mereka ditopang oleh infrastruktur kehidupan yang lengkap. Kalau pun masih ditemukan sejumlah anomali, hal itu biasanya karena sistem penopang kehidupan berjalan tidak lagi pada equilibriumnya.

Kita tahu bahwa terdapat beberapa kelompok masyarakat kota. Di mana kelompok pertama adalah kelompok yang super mapan. Disebut super mapan karena mereka memiliki sumber daya ekonomi, sosial dan budaya yang bisa dikatakan tidak terbatas. Sehingga ketika mereka mau mengambil libur kapan pun, pergi kemana pun, tidak pernah mengalami hambatan.

Kelompok ini tentu bisa kita sebut sebagai kelompok super mapan. Berapa banyak jumlah mereka, tentu saja sebagaimana hukum pareto, jumlah mereka minoritas, tetapi menguasai sumber daya yang mayoritas.

Kelompok kedua adalah kelompok mapan. Kelompok ini adalah mereka yang masih terikat dengan struktur dan sistem pada suatu institusi yang memberikannya penghasilan atau gaji yang besar dan lebih dari cukup untuk menopang kehidupannya—bahkan berlebih. Mereka biasanya adalah eksekutif atau mungkin senior manajer pada sebuah perusahaan bonavide yang mampu mengajinya dengan nilai puluhan kali lipat dari UMR, di tempat mereka bekerja.

Kedua kelompok ini jika dilihat dalam konteks sosiologi liburan jelas memiliki ruang sumber daya yang cukup untuk pergi kapan pun dan di mana pun. Karena itu mereka bisa memilih waktu bisa sampai ke tempat-tempat yang dituju di hari yang tidak menjadi buruan banyak orang sehingga mereka bisa full menikmati pengalaman dan sensasi dari setiap destinasi.

Ketiga adalah kelompok agak mapan. Mereka adalah kelas pekerja tetap yang mendapat gaji di atas UMR, tetapi penghasilannya cukup untuk memenuhi kebutuhan harian, serta ada sisa sedikit dari mode penghematan. Sehingga kelompok-kelompok ini kemudian mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki misalnya dengan menabung dulu, sampai ketika liburan tiba mereka memanfaatkan tabungan atau simpanan itu untuk menopang biaya perjalanan wisatanya.

Kelompok ini jelas tidak bisa pergi kapan pun, kemana pun sesuka hati. Mereka pergi ke tempat-tempat yang sudah direncanakan dengan manajemen keuangan yang matang, sehingga sensasi dan pengalaman yang didapatkannya jelas berbeda dengan dua kelompok sebelumnya. Tidak jarang mereka inilah yang kemudian juga terjebak pada macet-macetan karena ruang waktu yang mereka miliki nyaris sama dengan kebanyakan orang.

Keempat adalah kelompok yang tidak mapan, dan jelas menempati piramida paling bawah. Biasanya kuantitasnya juga paling banyak. Mereka bekerja, namun pekerjaannya tidak bisa membuat mereka cukup ruang untuk membuat perencanaan perencanaan travelling atau bepergian. Kalaupun pergi menikmati wisata, karena itu mendapatkan dalam “subsidi” tempat kerjanya.

Kenapa disebut kelompok tidak mapan? karena mereka jelas sangat tergantung dengan institusi yang memberikannya dia kerja. Sehingga mereka akan langsung berubah menjadi pengangguran ketika institusi ini tidak mampu lagi atau tidak mau lagi memberikan pekerjaan.

Secara umum dalam konteks memotret, bagaimana liburan dikalangan masyarakat. Secara sosiologis kita bisa membacanya di mana bagi kelompok pertama dan kedua kepentingan liburan lebih banyak bukan memenuhi semangat psikologis, tetapi lebih ke semangat communitarian kebersamaan dan sebagainya.

Sedangkan bagi kelompok tiga dan empat momen liburan adalah kejadian langka yang sungguh mereka ingin nikmati. Setidaknya meski harus bertarung menuju destinasi, yang ketika mereka sampai dan akhirnya mampu mendokumentasikan kehadirannya di tempat tersebut mereka sudah merasa cukup,

Dari sini kita bisa melihat mengapa selalu terjadi ledakan dan lonjakan di kawasan destinasi. Pertama tentu karena kebanyaka waktu liburan itu bersamaan.  Kedua karena masyarakat hari ini terkena apa yang kita sebut sebagai FOMO.

Fomo adalah keinginan tetap dalam arus dan pembicaraan yang sedang menggema baik di ruang maya maupun di dunia nyata. Sehingga demi fomo itulah mereka tetap harus pergi liburan meskipun uangnya terbatas. Mereka harus tetap masang aksesoris agar terlihat mapan dan mampu, walau hanya satu dua jepret saja.


*Penulis: pengajar Sosiologi Perkotaan dan Ketua Prodi S2 KPI UIN Jakartarajamedia

Komentar:
BERITA LAINNYA