Politik

Parlemen

Hukum

Ekbis

Nasional

Peristiwa

Galeri

Calon Dewan

Olahraga

Opini

Daerah

Dunia

Keamanan

Pendidikan

Kesehatan

Gaya Hidup

Otomotif

Indeks

Drone Emprit: Percakapan Negatif Pemilu Masih Ramai Dibahas Warganet

Laporan: Tim Redaksi
Selasa, 27 Februari 2024 | 14:47 WIB
Share:
Pendiri lembaga analisis Drone Emprit, Ismail Fahmi. (Foto: Medsos)
Pendiri lembaga analisis Drone Emprit, Ismail Fahmi. (Foto: Medsos)

RAJAMEDIA.CO - Pemilu, Jakarta - Masyarakat masih terus membicarakan tentang kecurangan pemilu sepekan setalah pemungutan suara. Pembicaraan itu, bukan hanya ramai di media sosial tapi juga media online.

Demikian disampaikan Pendiri lembaga analisis Drone Emprit, Ismail Fahmi, dalam konferensi pers Jaga Pemilu 2024, Sabtu (24/2).

Data Drone Emprit, 75 persen pembicaraan berisi narasi negatif seperti adanya tuduhan kecurangan terstruktur, sistematis dan masif dalam pemilu. Lalu, potensi penggunaan hak angket dan pemakzulan presiden terkait dugaan kecurangan dan manipulasi dalam penghitungan suara dan quick count.

"Total di Twitter (X) sampai 23 Februari kemarin, jumlahnya masih mencapai 946.089. Kemudian, di media online sebanyak 18.556," ujar Ismail.

Menurut Ismail, banyaknya sentimen negatif yang diperbincangkan di media sosial dan media daring membentuk persepsi masyarakat terhadap integritas Pemilu 2024.

"Narasi tentang kecurangan, pelanggaran, dan ketidakpuasan terhadap proses pemilu mencerminkan ketidakpercayaan publik terhadap sistem pemilu. Isu-isu seperti gagalnya Sirekap dan kegagalan dalam mengelola data suara secara transparan menambah skeptisisme," jelasnya.

Selain itu, tanggapan dari institusi pengawas pemilu seperti Bawaslu yang dinilai kurang sigap dan lamban dalam memproses setiap laporan kecurangan juga membuat publik semakin skeptis.
Kata Ismail, menurunnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap integritas pemilu berdampak pada peningkatan ketegangan sosial.

"Karena itu, ada seruan untuk aksi dan demonstrasi sebagai respons terhadap dugaan kecurangan menimbulkan potensi konflik sosial," demikian tutup Ismail.rajamedia

Komentar: