Politik

Parlemen

Hukum

Ekbis

Nasional

Peristiwa

Galeri

Calon Dewan

Olahraga

Opini

Daerah

Dunia

Keamanan

Pendidikan

Kesehatan

Gaya Hidup

Otomotif

Indeks

Sudah Dilakukan DKI Jakarta, Anies Mau Gantikan Program Food Estate dengan Contract Farming

Laporan: Nazila Nur
Kamis, 30 November 2023 | 11:16 WIB
Share:
Salah satu jejak digital kerjasama ketahanan pangan DKI Jakarta dengan daerah. (Foto: Dok Antara)
Salah satu jejak digital kerjasama ketahanan pangan DKI Jakarta dengan daerah. (Foto: Dok Antara)

RAJAMEDIA.CO - Bandung - Contract farming dinilai lebih cocok dari proyek food estate. Contract farming dinilai dapat menyejahterakan petani tradisional secara langsung.

Pernyataan itu  Calon presiden (capres) nomor urut 1, Anies Baswedan saat kampanye di Kota Bandung,  Rabu kemarin (29/11).

"Kita kekuatan Indonesia adalah justru pada petani tradisional, itu jangan dimatikan, itu yang harus dibangun," ujar Anies.

Anies mencontohkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengontrak petani di sejumlah wilayah untuk memasok pangan. Kontrak tersebut mencapai lima tahun.

Dijelaskan Anies, membangun food estate sama dengan menghamburkan uang negara hingga triliun rupiah.

Lebih baik, kata Anies, uang negara digunakan untuk pengembangan pertanian yang ada di berbagai daerah.

"Kan uangnya sama ada uang nih sekian triliun, kenapa uangnya dikasih ke perusahaan untuk bikin di tempat baru? Lah kita punya ratusan ribu di seluruh Indonesia," demikian tegas Anies.

Apa itu contract farming?

The Food and Agriculture Organization (FAO) atau Organisasi Pangan dan Pertanian menjelaskan contract farming adalah program yang terletak pada kesepakatan antara petani (produsen) dan pembeli.

Jadi, keduanya menyepakati terlebih dahulu syarat dan ketentuan produksi dan pemasaran produk pertanian.

"Kondisi ini biasanya menentukan harga yang harus dibayar kepada petani, kuantitas dan kualitas produk yang diminta pembeli, serta tanggal penyerahan kepada pembeli. Dalam beberapa kasus, kontrak juga dapat mencakup informasi lebih rinci tentang bagaimana produksi akan dilakukan atau apakah input seperti benih, pupuk, dan saran teknis akan disediakan oleh pembeli," tulis FAO, dikutip dari situs resminya.

FAO menyebut, dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan contract farming semakin populer, khususnya di negara-negara berkembang. Dalam program ini perusahaan yang mengolah produk pertanian harus membuat kontrak dengan petani, guna menjamin pasokan bahan secara teratur untuk memenuhi kebutuhan mereka dari segi kualitas dan kuantitas.rajamedia

Komentar: