Politik

Info Haji

Parlemen

Hukum

Ekbis

Nasional

Peristiwa

Galeri

Otomotif

Olahraga

Opini

Daerah

Dunia

Keamanan

Pendidikan

Kesehatan

Gaya Hidup

Calon Dewan

Indeks

Senjakala Industri Televisi: Ketergantungan Dominasi Terbalik

Oleh: Dr. Tantan Hermansah
Selasa, 09 April 2024 | 16:59 WIB
Share:
Ilustrasi kreatif televisi. (Foto: Repro)
Ilustrasi kreatif televisi. (Foto: Repro)

RAJAMEDIA.CO - Opini, Jakarta - Televisi (TV) adalah produk modernitas yang dibasiskan pada medium telekomunikasi, yang didalamnya terdapat proses mentransmisikan gambar bergerak dan suara.

Televisi dapat merujuk pada perangkat televisi itu sendiri atau pada media transmisi televisi. Secara sosiologis, televisi merupakan media massa yang digunakan sekelompok untuk berinteraksi melalui produk visual seperti iklan, hiburan, berita, dan olahraga.

Mengutip laman kompas.com (17/09/2022) sejarah televisi ini dimulai sejak abad 18, yang melibatkan nama-nama besar pengubah peradaban seperti: John Mc. Graham, Joseph dan Michael Faraday, serta Alexander Graham Bell dan Thomas Edison, sampai akhirnya menjadi televisi seperti yang kita nikmati saat ini.

Sejak tahun 1950an, bahkan TV telah menjadi institusi penerangan yang berperan besar dalam mempengaruhi opini publik, atau menaikturunkan seseorang di mata masyarakat.

Sehingga wajar jika kemudian banyak pihak (individu maupun Lembaga) memanfaatkan media TV sebagai sarana untuk membranding diri agar mendapatkan reputasi yang baik di mata masyarakat; atau sebaliknya melakukan pressure kepada seseorang atau sekelompok orang untuk suatu kepentingan.

Inilah masa di mana institusi TV telah berubah menjadi industri besar yang di dalamnya terdapat banyak kanal dan kepentingan.

Dari Kejayaan Menuju Senjaka

Namun seiring dunia yang terus berubah, industri televisi menghadapi tantangan baru, yang bahkan belum pernah ada sebelumnya. Kini media TV seperti tengah di ambang senjakala. TV, yang pernah menjadi pusat hiburan rumah tangga selama beberapa dekade, kini tenggelam dalam senja. “Kematian TV”, sebuah kisah ironis, di mana medium yang sangat dicintai itu justru "dibunuh" oleh pemirsanya sendiri.

Hal ini terjadi karena institusi TV, terutama yang masih berpijak pada platform tradisional berada dalam posisi yang paradoks: TV bukan lagi institusi yang menciptakan bintang, melainkan sedang berusaha keras untuk bertahan relevan dengan menarik talenta yang telah membangun kerajaan mereka sendiri di dunia digital.

Berubahnya pola konsumsi media adalah faktor utama terjadinya kemunduran televisi. Dengan perkembangan teknologi, tontonan yang sebelumnya hanya bisa diakses melalui televisi kini dapat dinikmati dalam multi-platform baru, yakni digital.

Bahkan lebih jauh, dengan internet yang menjadi basisnya, pemirsa/ penonton memiliki kendali penuh atas apa, kapan, dan di mana mereka menonton.

Penonton bukan lagi obyek, tapi subyek. Fleksibilitas ini yang tidak bisa ditawarkan oleh televisi. Sehingga fenomena ini mencerminkan, mau tidak mau, pergeseran mendasar dalam dinamika kekuatan antara media konvensional dan platform digital baru.

Selain itu, platform digital menawarkan variasi konten yang lebih luas dibandingkan televisi. Mulai dari film blockbuster hingga video amatir, semua dapat diakses dalam hitungan detik. Kebebasan ini telah menggeser preferensi pemirsa dari tayangan televisi reguler ke konten digital.

Menelisik lebih Dalam

Pertama, penting untuk memahami bahwa perubahan dalam konsumsi media dipicu oleh keinginan konsumen akan kontrol lebih besar atas apa yang mereka tonton, dan kapan serta bagaimana mereka ingin menontonnya.

Platform streaming dan media sosial memenuhi kebutuhan ini dengan sempurna, menyediakan konten on-demand yang dapat diakses melalui berbagai perangkat. Ini berbanding terbalik dengan model siaran televisi yang kaku, di mana pemirsa harus menyesuaikan jadwal mereka dengan jadwal tayangan.

Kedua, media sosial dan platform video telah melahirkan era baru selebriti: influencer digital dan content creator yang memanfaatkan platform ini untuk menjangkau audiens secara langsung, bahkan interaktif seperti tanpa jarak dan perantara.

Mereka tidak hanya menciptakan konten yang menarik dan autentik tetapi juga membangun komunitas aktif yang berinteraksi dengan mereka secara real-time. Keberhasilan mereka mencerminkan preferensi pemirsa modern yang cenderung menghargai koneksi pribadi dan keaslian di atas produksi besar yang tidak personal.

Ketiga, institusi TV juga dihadapkan pada penurunan jumlah pemirsa dan pergeseran preferensi ini, sehingga para pelaku industri pertelevisian mulai mengadopsi strategi yang mencerminkan ketergantungan terbalik: bukan menciptakan bintang, tetapi mengundang mereka. Talent digital yang memiliki pengikut besar diundang untuk tampil dalam program TV mereka.

Bahkan diajak kolaborasi. Institusi TV tidak hanya untuk memanfaatkan popularitas mereka, tetapi juga menarik pengikut mereka ke platform televisi.

Tentu saja ini ironi. Sebab institusi TV, yang dulu pernah menjadi pembentuk opini utama, kini sering kali terlihat sebagai platform sekunder yang memperkuat kehadiran online talenta tersebut.

TV di Masa Senjakala?

Dengan realitas di atas, kita bisa mendapatkan fenomena institusi TV itu pada dua sisi. Di satu sisi, kolaborasi ini memberikan kesegaran dan potensi peningkatan rating untuk program televisi.

Di sisi lain, ini juga menandakan pengakuan implisit dari stasiun TV tentang kekuatan dan pengaruh yang kini dimiliki oleh platform digital dan content creator di atas struktur tradisional mereka.

Sehingga jika institusi TV tetap berkutat pada strategi lama yang monoton, maka bisa dipastikan bahwa mereka sedang di masa senjakalanya.

Tanpa melakukan mitigasi pada sistemnya, di masa depan kita akan menemukan TV pada musium saja, dengan sejumlah cerita yang membumbuinya.

Oleh karena itu, di saat senjakala industri televisi terus berlangsung, institusi TV harus menavigasi lanskap media yang semakin didominasi oleh platform digital dengan bijak.

Mereka harus berinovasi tidak hanya dalam cara mereka menarik talent dan audiens tetapi juga dalam mengintegrasikan teknologi digital ke dalam produksi dan strategi distribusi mereka.

Mungkin, masa depan industri televisi akan sangat bergantung pada kemampuannya untuk berkolaborasi dan beradaptasi dengan dinamika kekuatan baru ini, di mana talent digital memegang kendali narasi dan pengaruh.

Ketergantungan terbalik ini bukan hanya tantangan tetapi juga kesempatan bagi televisi untuk mendefinisikan ulang perannya dalam era media yang terus berkembang.

Penulis: Pengajar Sosiologi Perkotaan dan Ketua Prodi Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Jakarta.rajamedia

Komentar: