Politik

Parlemen

Hukum

Ekbis

Nasional

Peristiwa

Galeri

Calon Dewan

Olahraga

Opini

Daerah

Dunia

Keamanan

Pendidikan

Kesehatan

Gaya Hidup

Otomotif

Indeks

Ramadan Sebagai Wisata Religi

Oleh: Tantan Hermansah
Senin, 10 April 2023 | 13:18 WIB
Share:
Aktifitas berburu takjil jadi salah satu kegiatan ekonomi selama bulan Ramadan. (Foto: ilustrasi/Net)
Aktifitas berburu takjil jadi salah satu kegiatan ekonomi selama bulan Ramadan. (Foto: ilustrasi/Net)

RAJAMEDIA.CO - Opini - Sebagai fenomena sosiologis, Ramadan adalah waktu di mana banyak orang terkena manfaatnya.

Karena dampak itu tidak terjadi hanya kepada kaum muslim semata, maka wajar jika kemudian kita bisa mengembangkan perspektif baru tentang Ramadhan.

Artikel ini ingin melihat Ramadhan dalam perspektif wisata.

Wisata adalah kegiatan yang saat ini lazim dilakukan oleh banyak orang dalam beragam bentuk, seperti: mengunjungi tempat-tempat yang eksotik, hadir pada event tertentu, maupun terlibat dalam satu kegiatan yang bisa memberikan beragam pengalaman baik pengalaman jasmani maupun pengalaman rohani.

Jenis-jenis pariwisata secara garis besar bisa dikategorikan kepada: pariwisata yang memiliki dampak jasadiah atau fisik,  dan pariwisata yang memiliki dampak kepada rohani atau jiwa.

Meskipun sebenarnya semua bentuk pariwisata memiliki  kedua dimensi tersebut, namun umumnya secara kasat mata pariwisata diarahkan untuk memenuhi kebutuhan raga,  biasanya terwujud dalam agama aktivitas yang membuat tubuh nyaman, enak dan menyenangkan.

Sehingga dengan aktivitas tersebut, muncul hormon bahagia atau dopamin. Wisata ini bisa dalam bentuk aktivitas berburu kuliner, mendapatkan pelayanan kesehatan, wisata olahraga, dan sebagainya.

Sedangkan ada aktivitas wisata yang memang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan yang sifatnya spiritual. Wisata ini sangat lazim dilakukan oleh bangsa Indonesia.

Kegiatannya bisa dalam bentuk  wisata ziarah atau wisata religi dengan mengunjungi tempat-tempat yang memiliki makna dan nilai historis atau keagamaan tertentu, seperti makam orang-orang shalih, masjid keramat, dan sebagainya.

Meskipun model wisata religi ini dikatakan sebagai wisata spiritual, namun sebagai aktivitas masyarakat bukan berarti tidak ada nilai atau manfaat ekonomi yang dihasilkan dari kegiatan tersebut.

Hal ini bisa dilihat pada beragam fakta di lapangan, di mana setiap destinasi wisata religi selalu memberikan dampak keramaian dan ekonomi kepada masyarakat sekitar.

Termasuk juga memberikan dampak keberlanjutan bagi pengelola kawasan atau destinasi wisata.

Sebagaimana diketahui bahwa pariwisata adalah industri yang tumbuh sangat lama, dan tetap diyakini akan memberikan prospek baik di masa sekarang ataupun di masa yang akan datang.

Hal ini terjadi karena pariwisata merupakan bagian integral dari kehidupan manusia itu sendiri. Sehingga karena menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya manusia itu, maka bisa dipastikan bahwa eksistensi pariwisata akan terus berlaku sampai dan selama masyarakat itu ada.

Begitu juga wisata yang berbasis spiritual. Keinginan manusia untuk memenuhi dahaga spiritual pun sama usianya dengan manusia itu sendiri. Sebab manusia memiliki dimensi yang utuh yakni dimensi ragawi dan dimensi ruhani.

Dimensi ragawi dipenuhi dengan ragam aktivitas yang memang dibutuhkan oleh raga; sedang rohani dipenuhi oleh aktivitas yang dibutuhkan oleh jiwa.

Satu diantara sekian banyak pemenuh rasa dahaga jiwa adalah  aktivitas puasa Ramadan. Aktivitas puasa Ramadan ini demikian spesial karena dia hanya dilaksanakan pada bulan Ramadan saja. Bahwa puasa bisa dilakukan oleh kaum muslimin di hari lain, namun puasa Ramadan rasa begitu istimewa.

Hal ini karena Ramadan adalah bulan yang dituliskan sendiri oleh Allah dalam Alquran. Sehingga mereka yang mengamalkannya merasa memiliki nilai lebih dan nilai tambah ketika bisa melaksanakan ibadah puasa.

Ekonomi Ramadan

Namun jangan jangan dikira bahwa dalam situasi berpuasa roda ekonomi masyarakat justru bergerak lebih cepat dari biasanya. Terutama pada sektor konsumsi.

Karena setidaknya ada beberapa variabel aktivitas yang terkait dengan Ramadhan sangat membutuhkan biaya yang cukup besar.

Contoh: aktivitas berburu takjil untuk kebutuhan buka puasa, membeli busana baru untuk kebutuhan di hari raya, membeli beragam hadiah untuk diberikan pada momen bahagia, juga aktivitas lain seperti infak, sedekah dan zakat,  yang di dalamnya memerlukan sumber daya langsung yang harus dialirkan atau dipindahkan dari satu pihak ke pihak yang lain. 

Tidak sedikit saat ini banyak arena perbelanjaan baru dibuka  untuk merespon kebutuhan masyarakat dalam berbelanja.

Sikap konsumtif yang demikian besar yang ditunjukkan oleh kalangan Islam bagi para pengusaha adalah kesempatan untuk mendapatkan keuntungan yang tidak bisa dianggap kecil.

Maka dari sini kemudian muncul sejumlah kegelisahan-akademik. Misalnya, mengapa kita tidak menjadikan puasa di Indonesia sebagai bagian dari destinasi wisata religi.

Ada beberapa alasan yang melatarbelakangi kepentingan ini.

Pertama, berpuasa diwarnai oleh beragam kebiasaan masyarakat dalam meresponnya. Mulai dari kegiatan pra puasa selama puasa dan bahkan pasca puasa.

Kegiatan puasa misalnya. Pada sejumlah tempat ada kegiatan yang melibatkan banyak orang dan banyak pihak sehingga menghasilkan keramaian yang sekaligus juga mengekspresikan harmoni dan kedamaian. Ada pawai obor, ada tarhim ada perlombaan, ada sejumlah hal lain yang kemudian sangat menarik untuk dijadikan bagian dari visualisasi menyambut bulan yang dinanti-nanti itu.

Selama ini kegiatan-kegiatan tersebut yang akhir-akhir ini semakin semarak, tidak pernah dijadikan produk wisata berbasis ekspresi budaya beragama. Padahal jelas kegiatan ini jika dikemas lebih baik akan sangat menjual.

Begitupun kegiatan selama Ramadan berlangsung. Tumbuhnya pusat-pusat kuliner baru, yang menampilkan beragam makanan khas selama Ramadan, serta aktivitas berburu takjil yang dilakukan oleh para soimun (mereka yang berpuasa), menjadikan Ramadan begitu indah untuk dinikmati oleh pihak lain.

Selanjutnya, memasuki kegiatan malam banyak masih menjadi destinasi untuk melakukan kegiatan ibadah. Pesona orang-orang yang berangkat menuju masjid dan keindahan mereka melakukan beribadah adalah sesuatu yang juga bisa dinikmati secara visual dan spiritual. Serta kegiatan-kegiatan lain yang melekat dengan suasana Ramadan. Semua ini bisa menjadi produk wisata budaya berbasis ekspresi keagamaan.

Kedua, sebenarnya pada tataran yang lain menjadikan Ramadan dan aktivitas yang ada di dalamnya sebagai destinasi wisata spiritual sudah banyak dilakukan.

Contoh paling gampang adalah kegiatan umroh di bulan Ramadan yang dikelola oleh banyak biro wisata. Di mana kegiatan umroh di bulan Ramadan ini secara harga jauh lebih mahal karena ada nuansa nuansa spiritual yang ditawarkan oleh para marketing biro tersebut.

Jika nuansa serupa pun dijadikan sebagai produk yang bisa dijual kepada masyarakat luas, wisata atau mengunjungi tempat-tempat yang memiliki nilai historis, maupun hal-hal spiritual selama Romadhon, pasti akan memiliki nilai tambah. Belum lagi misalnya ada paket wisata spiritual dengan mengunjungi makam para waliyullah, dan sebagainya.

Langkah-langkah Strategis

Untuk mewujudkan Ramadan sebagai salah satu destinasi wisata religi di Indonesia, maka langkah-langkah strategis yang perlu dilakukan oleh beragam pihak adalah:

Pertama, mengidentifikasi potensi destinasi wisata yang mungkin memberikan nuansa Ramadan dengan keunikan dan kekhasannya.

Misalnya menikmati Ramadan di masjid bulan yang di dalamnya ada paket takjil Bersama santri, zikir di masjid bersejarah, sahur bersama para asatid dan seterusnya.

Kedua, memberikan pemahaman yang lebih mendalam dan komprehensif kepada para pelaku di destinasi wisata. Di mana pelayanan kepada para pengunjung atau wisatawan yang mau mengikuti ragam kegiatan yang ada di tempatnya itu, tetap saja harus disambut dengan pelayanan yang prima sebagaimana pelayanan di destinasi wisata.

Ketiga, melakukan edukasi dan kampanye yang masif agar tidak ada kesalahan pahaman dalam menjadikan gagasan Ramadan sebagai destinasi wisata religi ini.

Keempat, kolaborasi antar pihak baik pemerintah pelaku wisata travel agent maupun tentu perwakilan dari masyarakat luas. Sehingga dengan kolaborasi ini maka semua pihak bisa menikmati nuansa wisata religi selama bulan Ramadan, tanpa harus selalu pergi ke Arab Saudi.

*Penulis adalah Ketua Prodi Magister KPI UIN Jakarta dan Pengurus IKALUINrajamedia

Komentar:
BERITA LAINNYA