Politik

Info Haji

Parlemen

Hukum

Ekbis

Nasional

Peristiwa

Galeri

Otomotif

Olahraga

Opini

Daerah

Dunia

Keamanan

Pendidikan

Kesehatan

Gaya Hidup

Calon Dewan

Indeks

Jalanan Sebagai Arena Pendidikan

Oleh: Tantan Hermansah
Sabtu, 09 September 2023 | 20:29 WIB
Share:
Ilustarasi kendaraan roda dua di jalan raya. (Foto: Repro)
Ilustarasi kendaraan roda dua di jalan raya. (Foto: Repro)

RAJAMEDIA.CO - Opini - Mungkin sebagian dari kita belum menyadari bahwa pelajaran bisa datang dari tempat yang tak terduga, bahkan ketika kita hanya berjalan-jalan di jalanan.

Sebagai contoh yang sederhana, perhatikan saat kita sedang dalam perjalanan dan melintasi jalan raya. Terkadang, kita bisa melihat Ibu-Ibu yang mengantar anak-anak mereka ke sekolah tanpa mengenakan helm—baik si Ibu atau anak-anak yang mereka bonceng.

Mereka mungkin terlalu terburu-buru atau terlalu sibuk untuk memperhatikan aspek keamanan, atau memang biasa begitu, dengan berbagai alasan.

Namun, tanpa disadari, perjalanan harian ini mungkin sedang memberikan pelajaran kepada anak-anak mereka, bahwa tindakan semacam itu adalah hal yang biasa dilakukan. Terlebih lagi, jika selama perjalanan ini, mereka terlibat dalam percakapan atau berusaha mencari jalan pintas yang memperpanjang waktu perjalanan. Di mana pembicaraan itu diisi oleh beragam hal.

Hal ini bisa menjadi proses penting dalam membentuk karakter, mengingat pengalaman dan pemikiran mereka selama di perjalanan yang mungkin bertentangan dengan apa yang mereka pelajari di sekolah.

Selain persoalan banyak “emak-emak” (tentu juga bisa siapa saja tanpa membedakan jenis kelamin) melakukan pelanggaran di jalanan itu, juga ada isu lain yang berkaitan dengan pendidikan di jalanan. Isu ini adalah “polisi tidur” atau speed bump atau sleeping policeman.

Menurut sebuah kajian, polisi tidur pertama dimulai sejak 7 Juni 1906, di Chatham di New Jersey, dengan berbagai alasan, yang intinya untuk mengurangi kecepatan.

Persoalan ini penting dibahas karena kehadiran polisi tidur yang sering kali dibuat oleh masyarakat tanpa memikirkan dampak yang lebih luas. Mungkin ada alasan di balik tindakan mereka, seperti menginginkan kendaraan yang melintas di depan rumah mereka untuk melambat, demi keselamatan.

Namun, hal ini juga bisa menciptakan stereotip negatif terhadap pengemudi di jalanan, menggambarkan mereka sebagai orang yang suka balapan.

Pertanyaannya adalah, mengapa ketidakpercayaan terhadap pengemudi yang berperilaku baik dan patuh terhadap aturan tidak pernah muncul dari orang-orang yang membangun polisi tidur ini?

Ini tidak semata-mata hasil pandangan sembrono, tetapi mungkin akibat dari pengamatan dan pengalaman yang telah mereka lalui. Namun, hal ini juga mengingatkan kita bahwa jalanan, selain sebagai tempat untuk bepergian, juga bisa menjadi ruang pendidikan yang kuat, meskipun seringkali tersembunyi.

Selama bertahun-tahun, jalanan telah memberikan pelajaran kepada pemilik rumah di pinggir jalan yang merasa perlu untuk membuat polisi tidur. Namun, kita perlu menyadari bahwa rintangan ini, meskipun mereka mungkin bertujuan baik, juga bisa menjadi ancaman bagi keselamatan.

Ini adalah masalah yang harus kita pertimbangkan saat kita membawa anak-anak kita dalam perjalanan, tanpa melupakan pentingnya mematuhi peraturan dan mengenakan perlengkapan keselamatan yang sesuai.

Sebagai masyarakat, kita harus bersama-sama berusaha untuk mengubah perilaku sehari-hari di jalanan menjadi lebih aman dan patuh terhadap aturan.

Melihat persoalan di atas, maka ada beberapa hal penting yang sejatinya kita perhatikan. Pertama, Kampanye Kesadaran Keselamatan. Meski hal ini sudah ada, namun tampaknya tidak atau belum efektif. Terutama yang fokus pada pentingnya penggunaan helm selama berkendara, tata cara berkendara dan sebagainya.

Ini tidak hanya akan mendidik pengendara, tetapi juga memberikan teladan positif bagi anak-anak yang seringkali mencermati perilaku orang dewasa.

Kedua, Pendidikan Lalu Lintas di Sekolah. Dalam hal ini sekolah-sekolah harus lebih aktif dalam memasukkan pendidikan lalu lintas ke dalam kurikulum mereka. Ini akan membantu memastikan bahwa generasi mendatang memiliki pemahaman yang lebih baik tentang pentingnya keselamatan di jalan raya.

Ketiga, Kolaborasi dengan Masyarakat. Masyarakat yang membangun polisi tidur seenaknya, sebaiknya diajak berkolaborasi untuk mencari solusi yang lebih aman, sehingga jalanan tidak menjadi ruang unjuk “kekuasaan”. Proses ini bisa melibatkan konsultasi dengan ahli lalu lintas dan perencanaan jalanan yang lebih baik.

Keempat, Penyuluhan Tentang Dampak Polisi Tidur. Penyuluhan harus dilakukan untuk menginformasikan masyarakat tentang dampak dari polisi tidur yang tidak tepat. Dengan upaya ini, diharapkan dapat mengurangi pembuatan polisi tidur yang berpotensi membahayakan dan mengubah persepsi negatif terhadap pengemudi.

Kelima, Pengawasan dan Penegakan Aturan. Tentu saja hal ini menekankan lebih banyak pengawasan dan penegakan aturan di jalanan, agar dapat membantu mengurangi perilaku berbahaya seperti kebut-kebutan. Hal ini harus dilakukan oleh otoritas berwenang secara konsisten.

Keenam, Inisiatif Perlindungan Anak. Di mana organisasi dan pemerintah seharusnya menginisiasi program perlindungan anak di jalanan, termasuk membuat jalanan yang nyaman dan aman untuk anak sekolah.

Ketujuh, Penggunaan Teknologi. Sebagai contoh pemanfaatan teknologi seperti kamera pengawasan dan pelaporan perilaku berbahaya dapat membantu dalam penegakan aturan dan meningkatkan kesadaran keselamatan di jalanan.

Diharapkan jika saja kita semua bisa memulai proses ini dengan baik dan benar, maka tidak mustahi, keadaban jalanan bisa dimulai sejak anak-anak diberikan keteladanan untuk patuh.

*Ketua Prodi S2 KPI dan Pengajar Sosiologi Perkotaan UIN Jakartarajamedia

Komentar: