Politik

Parlemen

Hukum

Ekbis

Nasional

Peristiwa

Galeri

Calon Dewan

Olahraga

Opini

Daerah

Dunia

Keamanan

Pendidikan

Kesehatan

Gaya Hidup

Otomotif

Indeks

Gatal Garuk

Oleh: Dahlan Iskan
Selasa, 19 Desember 2023 | 07:51 WIB
Share:
Kolase para capres di debat pertama debat Capres yang diselenggarakan KPU. (Foto: Repro)
Kolase para capres di debat pertama debat Capres yang diselenggarakan KPU. (Foto: Repro)

RAJAMEDIA.CO - Disway - SAYA menderita gatal jenis tertentu, kalau diibaratkan sama dengan gatal punggung: gatalnya menyiksa menggaruknya tidak bisa.

Ini gatalnya seorang wartawan: ingin sekali menulis sesuatu tapi tidak bisa menuliskannya. Soal debat calon presiden. Juga debat cawapresnya. 

Bukan main gatalnya jari-jari ini: begitu banyak sisi menarik yang bisa ditulis.

Akhirnya saya putuskan tidak menulis. Padahal sudah menyisihkan waktu melihat siaran langsung debat itu. Juga sudah mencatat bagian-bagian yang perlu ditulis.

Masyarakat sudah begitu terbelah. Tulisan yang tidak sesuai dengan aspirasi mereka dianggap membela lawan mereka.

Seandainya pun saya menulis tentang kehebatan Anies Baswedan dalam debat pertama pasti saya dianggap tidak objektif. Pro pasangan nomor satu itu. 

Pun kalau saya menulis bahwa rakyat kecil justru senang dengan gaya Prabowo. Bisa jadi dianggap membela pasangan nomor dua.

Begitu pula kalau saya menilai penampilan Ganjar mirip bintang film Korea: akan dianggap pro Ganjar-Mahfud MD.

Saya berkaca dari apa yang menimpa Pemimpin Redaksi Harian Kompas. Wanita. Lulusan Agronomi IPB itu berkarier dari bawah: reporter. Prestasinyi sangat baik. Dikenal dengan liputan-liputan luar negerinyi. Sampai diangkat jadi pemimpin redaksi. Namanyi: Ninuk Mardiani Pambudy.

Ketika survei Kompas memaparkan capres A yang unggul, kelompok pendukung A memuji Kompas setinggi langit.

"Hanya Kompas yang masih bisa dipercaya," komentar mereka di medsos. Termasuk di grup WA yang saya ikuti.

Tentu hasil survei berubah-ubah. Sesuai dengan perkembangan di lapangan.

Belakangan Kompas mengumumkan hasil survei terbaru. Calon A tidak lagi unggul. Bahkan terancam gagal masuk putaran dua. Maka caci-maki dialamatkan ke Kompas. Berbagai tuduhan pun disasarkan ke Kompas.

Termasuk tuduhan ke pemimpin redaksi Kompas. Padahal dalam hal survei seperti itu pasti Pemred Harian Kompas tidak ikut campur. Sampai-sampai ditelusurilah latar belakang keluarga Ninuk. Juga asal-usulnyi. Bahwa dia adalah anak Moerdiono, mensesneg di masa kediktatoran Orde Baru. Bahwa suaminyi adalah salah satu pengurus pusat Partai Gerindra.

Saya tentu tahu dalamnya Harian Kompas. Juga tahu prinsip jurnalismenya yang independen. Caci maki ke Ninuk itu menandakan betapa akal sehat sudah dikalahkan di masa menjelang Pilpres.

Padahal Ninuk sendiri sudah bukan Pemred Harian Kompas. Sudah sejak tiga tahun lalu Pemred Harian Kompas dijabat Sutta Dharmasaputra.

Tentu ada alasan lain saya tidak menulis jalannya debat Capres: sudah begitu banyak yang menulis. Sesuai dengan versi masing-masing. 

Mungkin Jumat malam nanti saya diserang gatal lagi. Ketika para cawapres  debat di TV. Apalagi ada wajah muda di situ. Bagaimana Gibran menghadapi pakar hukum sekelas Prof Dr Moh Mahfud Md. 

Tapi sudah saya putuskan tidak menggaruknya.rajamedia

Komentar:
BERITA LAINNYA
Disway: Pagar Teras
Pagar Teras
Senin, 04 Maret 2024
Kereta cepat di Arab Saudi. (Disway)
Kalah Takut
Minggu, 03 Maret 2024
Disway: Tesriksa Jendela
Tersiksa Jendela
Sabtu, 02 Maret 2024
Nafsiah Sabri Shahdan difoto oleh Dahlan Iskan Mochamad di penerbangan Etihad Jakarta-Abu Dhabi.(Foto: Disway)
Depan Belakang
Jumat, 01 Maret 2024
Anggota KPU Surabaya mengikuti rapat pleno rekapitulasi penghitungan suara Pemilu 2024 di KPU Kota Surabaya, Jawa Timur, Rabu (28/2). (Harian Disway)
Risang Bima
Kamis, 29 Februari 2024
Foto: Disway
Kepentingan Umum
Rabu, 28 Februari 2024